RSS

Sabtu, 03 Mei 2014

Jokowi For President

Jokowi For President

Seperti ketika mengamati lahirnya Jakarta Baru 2 tahun yang lalu, mengikutiperkembangan pemilu 2014 adalah sesuatu yang menggairahkan.  Menggairahkan karena “tempo dulu” berita dan platform internet belum sebagus sekarang. Bahkan 2009, pemilu terakhir pengguna internet di Indonesia belum sebanyak sekarang. 2014 ini dengan  bermunculannya online-online media juga tersedianya jasa-jasa seperti twitter, facebook, kompasiana, dan blog-blog pribadi semakin membuat kita bisa melihat lebih cepat dan obyektif berita di luar. Pencapresan Jokowi di Jumat keramat 14 Maret 2014 tidak hanya memperlihatkan support yang luar biasa terhadap Jokowi, tetapi juga langsung memperlihatkan peta politik yang lebih diperjelas.

Berikut adalah 10 artikel dari berbagai media yang di kompilasi untuk memperlihatkan sisi kontra dari pencapresan Jokowi:
2. Media Republika (Pilihan Editor)
 Jokowi Resmi Capres, Warga DKI: Ternyata Dia Serakah
3. Media Teras Jakarta
 PKS Kritis Pencapresan Jokowi
Peta yang bisa dilihat adalah lawan-lawan politik Jokowi masih menggunakan 3 isu utama untuk mencoba menggoyang Jokowi.
Yang pertama adalah isu SARA.  Sejak Rhoma Irama di Jakarta Baru, isu ini terus coba dikembangkan.  Apalagi, bukan hanya Jokowi yang naik tapi Ahok akan jadi DKI-1 apabila semua lancar.  Pukulan telak bagi bagi politikus non-Pancasila dan non-Bhinneka, alias politikus SARA.
Yang kedua adalah isu JANJI Jakarta Baru.  Isu ini menjadi sentral karena Jokowi adalah simbol dari sebuah perlawanan status-quo.  Simbol sebuah integritas, kejujuran, dan kepolosan.  Meskipun kelihatannya tidak banyak berpengaruh, tapi isu ini terus akan di pakai untuk menghajar “pendekar Solo senior” ini.
Yang ketiga adalah isu KETEGASAN.  Isu ini di lontarkan untuk mencoba melihat celah lawan politik yang terlihat lebih lebih tegas lebih mampu.  Apalagi selama di Solo Baru dan  Jakarta Baru, Jokowi selalu di dampingi “orang-orang tegas dan keras” seperti pak Rudi dan Ahok yang selalu bergerak praktis kebawah.
Sampai detik ini, ketiga isu itu masih belum mampu menggoyang Jokowi.  Isu sara dan zionis jelas sangat berbau konspiratif dan sulit untuk dipertanggungjawabkan.  Isu janji secara normatif sudah terjawab, Jokowi tidak mencapreskan diri, Jokowi di beri perintah untuk mencapreskan diri.  Dan ini sudah cukup secara etis untuk membuat Jokowi mantap untuk maju. Isu ketegasan dapat dengan mudah di patahkan karena wakil dan tim belum terbentuk dan juga gaya politik jawa memang kalem di depan dan keris dibelakang.  Lagian biarpun orang mau melompat dalam tahapan politik seperti Jokowi di tubuh PDI-P sendiri misalnya, belum tentu mereka mampu.  Jokowi tidak selembek yang dibayangkan.  Dia mampu menempatkan diri menjadi capres PDI-P itu pun karena sebuah ketegasan prinsip. Apapun kata orang, pro dan kontra boleh terjadi, tapi yang jelas Jokowi sudah mantap menerima mandat.  Suatu kemenangan bagi rakyat ketika semua orang baik mau turuntangan.

0 komentar:

Posting Komentar